To Liong To bagian 3: Perahu Layar Cap Tangan

To Liong To / Kisah Membunuh Naga

III PERAHU LAYAR CAP TANGAN

Ketika mereka masih berbicara, tiba-tiba wajah Tay-giam berubah, sambil

mematikan lilin ia berbisik, "Ssst, ada or orang datang!"

Ilmu lwekang Tek Seng belum setinggi Taygiam sehingga tidak mendengar adanya

suara. Tak lama kemudian dari tempat yang jauh terdengar suara suitan beberapa

kali. Rupanya ada orang yang saling memberi tanda ke arah kelenteng ini.

"Celaka, musuh mengejar kita, mari kita lari lewat pintu belakang!" seru Tek Seng

ketakutan.

"Di belakang pun ada musuh," ujar Taygiam.

"Mungkin belum ada..." Tek Seng belum selesai bicara, Tay-giam

sudah memutus pembicaraan itu. Katanya, "Tek-lotiang, yang datang itu orang-orang

Hay-soa-pay, kebetulan sekali kakek bisa minta obat penawar racun pada mereka.

Aku tidak ingin ikut campur dalam masalah ini, apa pun yang terjadi terserah pada

Lotiang."

"Ji-samhiap," pinta Tek Seng dengan suara gemetar sambil memegang tangan Tay-giam

erat-erat, "Sekali-sekali jangan kautinggalkan aku, jangan tinggalkan aku!”

Tay-giam merasakan jari si kakek sangat dingin dan pegangannya erat sekali. Ia

memelintirnya hingga pegangan Kakek terlepas.

Tek Seng merasa sangat kesakitan, seperti mau patah saja. Ia menyadari jika Ji

Tay-giam tidak menolongnya pasti nyawanya melayang. Namun sebaliknya jika pusaka

yang sudah direbutnya mati-matian itu kini harus diserahkan musuh begitu saja

rasanya lebih sayang daripada dagingnya sendiri yang disayat. Ia tak peduli,

dirangkulnya tangan Tay-giam erat-erat.

Tay-giam sangat terkejut dengan ulah Tek Seng itu. Ia meronta dan berusaha

melepaskan rangkulannya. 

Tapi justru dengan sikap Taygiam itu membuat Tek Seng makin erat

merangkulnya, seperti orang yang takut tenggelam di air saja. Sebetulnya jika

Tay-giam mau dengan kekuatannya meronta ia bisa mematahkan tulang kakek itu. Tapi

Tay-giam tidak tega. Tek seng dibentaknya, "Kakek mau melepaskan rangkulan ini

tidak?"

Pada saat itulah, dari luar terdengar suara orang yang berjalan dengan cepat.

Kemudian disusul dengan suara yang sangat keras, ternyata orang tadi mendobrak

pintu kelenteng. Tendangan orang tadi luar biasa kuatnya dan menyebabkan pintu

kelenteng jebol dan melesat jatuh ke dalam kelenteng.

Tay-giam terkejut. Hebat benar orang ini, tidak boleh dipandang enteng, pikirnya.

Tiba-tiba hidungnya mencium bau amis dan busuk. Sepertinya ada yang dilemparkan

dari tempat gelap. Cepat-cepat Tay-giam melepaskan diri dari rangkulan Tek Seng.

Ia segera melesat dan dapat mendahului jatuhnya benda aneh itu kemudian

bersembunyi di belakang patung malaikat laut yang besar.

Tek seng menjerit tertahan. Terdengar suara keras beberapa kali. Rupanya senjata-

senjata rahasia yang dilemparkan kepadanya jatuh ke lantai. Senjata-senjata gelap

itu susul-menyusul berhamburan masuk ke dalam kelenteng. Bau amis dan busuk makin

menusuk, rasanya seperti beribu-ribu ikan mati dan busuk tertimbun dalam ruangan

itu.

Tek seng tampak berkelit ke sana ke mari. Tubuhnya sempoyongan seperti orang

mabuk. Karena ruangan dalam kelenteng itu sangat sempit, maka Tek seng tak bisa

menghindar dari serangan senjata gelap itu.

Sambil mendengar suara jatuhnya senjatasenjata rahasia, Tay-giam berpikir, apakah

ini Toh-beng-tok-soa (pasir beracun pencabut nyawa)? Jika benar, semestinya Tek

Seng tidak akan tahan terkena senjata begini banyak. Tapi segera ia tersadar. Ah,

aku tahu. Ini adalah garam beracun kaum Hay-soa-pay.

Jika begini, percuma saja Tay-giam memiliki ilmu silat tinggi. Dengan hujan garam

beracun yang dilemparkan dari luar tanpa berhenti seperti ini, mana berani ia

menerjang keluar?

Malahan menyusul atap rumah berkelotakan, pasti ada orang yang melompat ke atas

dan membongkar genting lalu menaburkan garam beracun ke bawah.

Tay-giam sangat terkejut oleh kejadian itu, pikirnya, matilah aku! Sungguh tak

disangka, apa salahku hingga ikut terlibat dan mati di sini?

Tadi ia menyaksikan sendiri Kim-bau-khek dan Tiang-pek-sam-kim terkena racun

garam. Kim-bau-khek yang ilmu silatnya sangat tinggi itu pun menjerit-jerit

sangat mengerikan ketika terkena racun garam itu. Dapat dibayangkan betapa

hebatnya barang itu.

Sementara itu garam beracun masih berhamburan masuk ke dalam kelenteng. Dada Tay-

giam terasa sesak luar biasa, ia sadar bahwa sebentar lagi bisa terkena cipratan

benda berbahaya itu. Dalam keadaan genting, ia pecahkan punggung patung besar

dari lempung itu lalu menerobos masuk ke dalam perutnya.

Dengan begitu ia menjadi seperti memakai selapis baju lempung. Betapapun banyak

hujan garam, tak perlu ia khawatir.

Meskipun Hay-soa-pay sangat mengandalkan garam beracun, tetapi reaksi racunnya

sangat pelan. Karena itulah Tek Seng masih bisa berteriak-teriak dalam kelenteng

dan belum jatuh pingsan. Sebaliknya, orang-orang Hay-soa-pay rupanya sangat

jengah melihat kehebatan Tay-giam. Mereka tidak berani menyerbu masuk dan hanya

menghujani garam beracun. Dengan maksud merobohkan kedua orang itu. Jika sudah

lemah, barulah mereka masuk menawannya dan merampas To-Liong-po-to.

Pada umumnya senjata rahasia berbisa seperti jarum dan pasir kecil-kecil, bila

mengenai tubuh orang racunnya menjalar mengikuti aliran darah. Bila racunnya

jahat, asal sudah masuk dalam darah, orangnya akan segera mati. Tapi racun garam

ini ternyata meresap masuk melalui kulit. Meskipun tidak bisa melukai orang

hingga masuk ke dalam darah, tapi racunnya perlahan-lahan menjalar dan akhirnya

sang korban pun akan melayang nyawanya.

Tay-giam sadar, sebetulnya dengan bersembunyi dalam perut patung lempung 

bukan tindakan yang tepat. Tapi ia berpikir

untuk saat ini tidak ada jalan lain kecuali sembunyi dalam perut patung itu. Ia

menunggu jika nanti orang-orang Hay-soa-pay meleng, ia akan melompat ke luar dan

menerobos atap. Ia keluarkan dua butir pil dan ditelannya sendiri. Lalu ia himpun

tenaga dan melancarkan tenaga dalam. Dengan demikian rasa sesak dalam dadanya

jadi hilang.

Sementara itu ia mendengar kawanan Haysoa-pay sedang berunding di luar. "Sasaran

itu tidak bersuara lagi, mungkin sudah pingsan."— "Yang muda itu sangat lihai,

biar kita tunggu sebentar lagi, mengapa mesti buruburu?"—"Bila kita berhasil kali

ini, Toako pasti akan memberi hadiah!"

Tiba-tiba salah seorang dari mereka membentak, "Hai bangsat, cepatlah kalian

menyerah dan keluar, supaya tidak buang waktu percuma!”—Lalu ia pun memberi

perintah, maka belasan orang menerobos masuk ke dalam kelenteng

Orang-orang itu semua memakai obat

penawar racun sehingga tidak takut pada racun garam. Diam-diam Tay-giam berpikir

, Aku tidak merasa bermusuhan dengan kawanan Hay-soa-pay dan juga tidak bermaksud

mengincar To-Liong-po-to, lebih baik aku melompat keluar dan mendamaikan mereka

saja. -Namun ia pun segera berbalik pikiran, ah, tak mungkin! Nama Bu-tong-pay

telah menggetarkan Bu-lim, jika aku keluar begitu saja, mereka mengira aku telah

kalah dan takluk, tentu sangat merugikan kehormatan perguruan."

Saat Tay-giam. ragu-ragu, tiba-tiba di luar kelenteng sana terdengar suara suitan

berkumandang. Suara itu lembut sekali tapi tajam menusuk telinga dan menggetarkan

kalbu. Tay-giam tercengang sejenak, dalam sekejap suara suitan itu sudah sampai

di bawah batu cadas di luar kelenteng.

Tay-giam tertegun dan tidak habis mengerti akan kecepatan suara tadi. Seandainya

ada burung atau kuda yang punya kecepatan terbang paling tinggi sekalipun tidak

akan sanggup menandingi kecepatan suara itu. Tetapi

suara suitan itu nyata suara manusia bukan burung

Setelah suara suitan tadi berhenti kemudian dari luar terdengar suara teriakan

aneh Tek Siang. Dengan nada sangat ketakutan ia bertanya, "Apakah kau... kau juga

menghendaki To... To-Liong-To... Pek-bi..."

Belum juga selesai ucapannya, mendadak suaranya berhenti. Begitu pula dengan

belasan orang Hay-soa-pay baik yang di luar maupun di dalam kelenteng, mereka

semua bungkam. Keadaan menjadi sunyi senyap, sepertinya mendadak semua orang

telah kaku menjadi patung. Seperti juga sekonyong-konyong mereka telah melihat

sesuatu yang sangat menakutkan, lalu mereka terkesima dan tak bisa bersuara.

Dalam keadaan sunyi sepi tiba-tiba terdengar suara "bluk" sekali. Di dalam

kelenteng ada orang yang terluka dan roboh, disusul suara orang meratap,

"Orang... orang Pek-bi... cepat kita lari...." belum selesai kata-kata itu

mendadak suaranya terhenti. Mungkin makhluk yang sangat menakutkan itu sudah

masuk ke dalam kelenteng sehingga rencana mereka kabur menjadi urung.

Tay-giam merasa heran. Apakah Pek-bi itu? Adakah sejenis binatang buas yang tiada

tandingannya, atau seorang yang lihai luar biasa hingga membuat orang-orang

sangat ketakutan? begitu pikirnya.

Bersamaan dengan itu terdengar pula orang bertanya, "Kau-cu (ketua agama)

bertanya pada kalian, dimana keberadaan To-Liong To, secepatnya serahkan, mungkin

Kau-cu merasa kasihan dan mengampuni nyawamu semua.

- Suara orang itu cukup ramah dan tidak me nimbulkan rasa takut, benar-benar

berwibawa.

Terdengar suara orang Hay-soa-pay yang menyahut, "Te... telah dicuri olehnya, dan

kami sedang berusaha merebutnya kembali, Kau-cu... Kau-cu...”

"Hai, mana To-Liong-To itu?" terdengar suara ramah tadi. Jelas ini ditujukan

kepada Tek Seng.

Tek Seng tidak menjawab, malahan terdengar suara gedebukan sekali, suara orang

roboh.

Celaka, Tek Seng dibunuh, pikir Tay-giam. Tay-giam sadar bahwa ia seorang diri

melihat kejadian aneh itu. Ia merasa bukan tandingan lawannya. Tapi kalau sudah

ikut campur, mana bisa berpeluk tangan. Sebagai lakilaki sejati mengapa harus

takut menghadapi bahaya?

Ketika ia hendak melompat keluar, tiba-tiba ada seseorang yang berkata dengan

suara dingin. "Orang ini sudah mati ketakutan, coba geledah badannya!"

"Hah..., mati ketakutan?" Tay-giam terkejut. Kemudian terdengar suara

berkereseknya kain baju serta suara tubuh orang dibalikkan. Orang yang bersuara

ramah tadi berkata, "Lapor Kau-cu, pada tubuh orang ini tidak ada barang apa

pun."

Beberapa saat berlalu, kepala kawanan Hay-soa-pay dengan meratap-ratap berkata,

"Kau... Kau-cu, Po-to jelas-jelas telah dicuri orang ini, ka... kami tidak berani

bohong..." - Mendengar suaranya, tentu orang itu dalam keadaan sangat ketakutan

karena ditatap oleh Kau-cu yang sangat berwibawa itu.

Suara ratapan yang mengerikan terdengar jelas oleh Tay-giam. Meskipun ilmu

silatnya tinggi dan nyalinya besar, namun mau tidak mau ia ikut bergidik juga. Ia

pun berpikir, aneh! Golok pusaka itu jelas-jelas berada di tangan Tek Seng,

mengapa bisa menghilang?

Sementara orang yang bersuara ramah itu berkata lagi, "Kalian bilang golok telah

dicuri dia, tapi mengapa tidak ada? Pasti diam-diam telah kalian sembunyikan.

Begini saja, siapa yang mengaku lebih dulu akan kuampuni. Di antara kalian hanya

ada seorang yang tidak akan mati. Nah, siapa yang mengaku lebih dulu, dialah yang

hidup.”

Keadaan kelenteng semakin sunyi. Tak lama kemudian kepala kawanan Hay-soa-pay

berkata, "Lapor Kau-cu, kami benar-benar tidak mengetahuinya, tapi pasti kami

akan berusaha mencari tahu kejadian yang sebenarnya...."

Kau-cu yang bersuara dingin tadi hanya mendesah tidak menjawab. Sebaliknya, orang

yang bersuara ramah itu berkata lagi, "Nah, siapa yang melapor kejadian

sebenarnya akan diampuni."

Sampai beberapa saat tidak ada seorang pun dari kawanan Hay-soa-pay yang membuka

suara. Mendadak ada seorang yang berteriak: "Golok pusaka yang kami cari benar-

benar menghilang tanpa bekas, jika kau tetap tidak percaya, sekalipun harus mati,

mari kita adu kekuatan saja, coba Pek-bi-kau....”-sampai di sini kata-katanya

berhenti, rupanya nyawanya langsung melayang tanpa suara.

Lalu ada seorang lagi yang berkata, "Tadi ada seorang laki-laki berusia 30 an

tahun menolong keluar kakek ini, Ginkangnya sangat hebat dan kami tidak tahu

kemana perginya, tentu Po-to telah digondol olehnya.”

"Ehm... nyawa orang ini diampuni!" kata Kau-cu itu. Lalu terdengar suara angin

berhembus, orang-orang telah keluar dari kelenteng disusul suara suitannya yang

nyaring, jaraknya sudah cukup jauh.

"Aku berada di sini, jangan mengorbankan nyawa orang tidak berdosa!" Cepat-cepat

Taygiam berteriak dari tempat persembunyiannya. Ia tahu bawahan Kau-cu itu pasti

akan melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap kawanan Hay-soa-pay. 

Maka Tay-giam segera melompat keluar dari perut patung lempung.

Namun di dalam kelenteng sekarang sunyi senyap tak ada seorangpun. Ketika Tay-

giam mencoba mencari, terlihatlah kawanan Haysoa-pay itu berdiri tegak di suatu

sudut tanpa bergerak sedikitpun, mukanya seram dan aneh. Tay-giam heran,

dinyalakannya lilin dan betapa terkejutnya melihat keadaan yang sesungguhnya.

Ternyata orang-orang itu berdiri dengan kaku seperti kena totok. Wajah mereka

terlihat beringas dan menakutkan. Sekalipun Taygiam termasuk orang yang tabah,

tapi melihat keadaan seperti itu hatinya berdebar-debar juga. Pikirnya, manusia

macam apakah Kaucu dari Pek-bi-kau itu. Kawanan Hay-soa-pay tampaknya sangat

tangkas dan berani mati, apakah hanya karena melihat sang Kau-cu lantas ketakutan

sedemikian rupa?" -Maka iapun mengulurkan tangannya hendak menotok "Hoa-kap-hiat“

supaya mereka bergerak kembali.

Tay-giam tak menduga, ketika tangannya menyentuh tubuh orang-orang itu sudah

dingin dan kaku, dan ternyata napas orang-orang itu sudah berhenti. Rupanya mereka

ditotok tepat di aliran darah yang mematikan. la memeriksa setiap orang, lebih

dari 20 lakilaki mati semua. Hanya ada seorang yang terkulai di lantai dengan

napas tersengal-sengal. Agaknya orang ini yang nyawanya diampuni sang Kau-cu

karena telah mengatakan keadaan yang sebenarnya tadi.

Tay-giam benar-benar tidak habis mengerti oleh keadaan itu. Ketika Kau-cu tadi

bilang, "Ampuni nyawa orang ini," saat itu ia segera melompat keluar. Tapi hanya

dalam sekejap saja lebih dari 20 orang kena dibinasakan semua. Sungguh susah

dibayangkan, betapa cepat gerakan orang itu.

Ia segera membangunkan orang Hay-soapay yang masih belum mati itu lalu ditanya,

"Aliran macam apakah Pek-bi-kau itu? Siapakah gerangan Kau-cu mereka?"

Namun orang itu hanya mendelik saja, tidak menjawab meski ditanya berulang-ulang.

Ketika Tay-giam memeriksa nadi orang itu, baru diketahuinya jika aliran darah orang

itu sudah kacau. Rupanya meski nyawanya selamat, tapi urat nadinya sudah terputus

beberapa tempat kena getaran pukulan. Akibatnya, , menjadi gendeng dan tidak bisa

bicara.

Tay-giam menjadi semakin gusar melihat keadaan itu. Pikirnya, seperti apakah Pek-

bikau itu, mengapa dia sangat kejam?

Ia merasa bahwa ilmu silat pihak lawan sangat tinggi. Tentu ia bukan

tandingannya, apalagi hanya seorang diri. Sesudah berpikir demikian, ia

memutuskan untuk kembali ke Bu-tong-san lebih dulu dan melapor pada sang Suhu.

Jika asal-usul Pek-bi-kau dapat diselidiki dengan jelas, barulah Bu-tong-chithiap

akan turun gunung bersama untuk bertempur melawan Pek-bi-kau itu. Pikirnya,

betapapun hebatnya Pek-bi-kau, jika kami tujuh bersaudara seperguruan maju

bersamasama, pasti akan sanggup melawannya, tak perlu Suhu tampil ke muka

sendiri,

Melihat kawanan Hay-soa-pay terbinasa secara mengenaskan, hati Tay-giam menjadi

tidak tega. Di samping juga kelenteng yang mirip 'timbunan salju' garam beracun

itu, Taygiam khawatir jika ada orang tak berdosa masuk ke dalam kelenteng dan

terkena garam beracun. Dengan cepat Tay-giam mengeluarkan senjata lalu menggali

lubang besar di belakang kelenteng dan berniat menguburkan mayat-mayat itu ke

dalam lubang.

Khawatir jika terkena racun garam, Taygiam sangat hati-hati ketika menarik

mayatmayat itu. Sudah belasan mayat dimasukkan ke dalam lubang, ketika hendak

menarik satu mayat lagi, mendadak ia hampir terjerembap. Ia merasa tubuh mayat

itu luar biasa berat. Padahal jika dilihat, perawakannya biasa saja dan tidak

kekar, tetapi mengapa sangat berat?

Ketika Tay-giam mengangkat tubuh mayat itu, ia melihat di punggungnya ada luka

yang panjang. Tay-giam mencoba meraba luka itu, tiba-tiba tangannya menyentuh

sesuatu yang dingin. Ketika ia tarik, betapa terkejutnya ternyata sebilah golok.

Golok itu berat sekali, beratnya kurang lebih 70 kg yang disebut

sebagai To-Liong-po-to dan mati-matian banyak diperebutkan orang.

Rupanya, tadi ketika Hay-tong-che Tek Seng mendengar munculnya Pek-bi Kau-cu,

sebelum mati ketakutan, golok pusaka yang dipegangnya telah jatuh dari

cekalannya. Terus membacok masuk ke punggung seorang anggota Hay-soa-pay. Karena

golok itu sangat tajam sekali dan berat, maka ketika orang Haysoa-pay roboh,

golok itupun ikut ambles ke dalam tubuhnya.

Benar juga, ketika Pek-bi Kau-cu memerintahkan bawahannya untuk menggeledah badan

Tek Seng tentu saja tidak menemukan apa pun. Dan bila Tay-giam tidak muncul rasa

bajiknya untuk menguburkan mayat-mayat itu kemungkinan To-Liong-po-to yang

mengguncangkan dunia persilatan akan lenyap untuk selamanya.

Tay-giam sendiri menjadi bingung. Setelah memegang golok pusaka itu ia berpikir,

meski golok pusaka ini dipuja orang persilatan, tapi bagiku hakekatnya benda yang

beralamat jelek, bukankah Hay-tong-che dan kawanan

Hay-soa-pay itu binasa karena golok ini? Kini tidak ada jalan lain kecuali kubawa

untuk kupersembahkan pada Suhu dan terserah kepada keputusannya.”

Lalu dikuburkannya semua mayat termasuk Tek Seng. Khawatir jika racun garam di

dalam kelenteng itu nanti terbang kemana-mana dan mencelakai orang, maka

dibakarnya pula kelenteng malaikat laut itu.

Dibersihkannya To-Liong-To kemudian diperiksa dengan teliti di samping api yang

mulai berkobar. Ia perhatikan golok itu, hitam mulus, bukan emas, bukan besi,

entah tergembleng dari bahan apa. Dari ujung golok sampai gagang lapat-lapat ada

selarik garis hijau.

Telah dilihatnya tadi ketika Tiang-pek-samkim menggembleng golok itu dalam api

yang besar tapi ternyata tidak rusak sedikitpun. Sungguh suatu benda ajaib. Tay-

giam pun tak habis mengerti bagaimana cara menggunakan golok seberat itu ketika

menghadapi musuh. Sekalipun Kwan Kong di zaman Sam Kok terkenal kuat, golok yang

dipakainya waktu itu hanya 50 an kg, tapi To-Liong To ini lebih dari 70 an kg!

Kemudian dengan hati-hati dimasukkannya senjata itu ke dalam buntalannya, lalu

berdoa ke arah kuburan Tek seng. "Tek-lotiang, sekalikali aku tidak ingin

memiliki golok ini. Tapi To-Liong-To ini merupakan benda ajaib di dunia, jika

jatuh ke tangan orang jahat tentu akan menambah kejahatannya. Guruku maha besar

dan maha adil, ia pasti akan mengaturnya secara tepat!"

Sesudah berdoa di kubur Tek Seng, iapun menggendong ranselnya kemudian

melanjutkan perjalanan ke utara dengan langkah lebar.

Tidak sampai setengah jam perjalanan, sampailah ia di tepi sungai. Ia memandang

ke sekeliling tapi tidak ada satu kapal pun. Ia berjalan ke arah timur menyusur

sungai itu. Tidak lama kemudian di depan sana ada sinar lentera yang berkedip-kedip. 

Ada sebuah perahu nelayan yang sedang menangkap ikan. 

Di tempat sejauh belasan tombak dari gili-gili. 

"Hai, Toako penangkap ikan, tolong seberangkan aku, tentu 

akan kuberi imbalan yang layak!” seru Tay-giam.

Namun perahu itu jaraknya agak jauh, mungkin si nelayan tak mendengar seruan.

nya. Segera Tay-giam menghimpun tenaga, kemudian dengan tenaganya yang sudah ter.

latih puluhan tahun, ia berteriak. Lantas suaranya berkumandang jauh. Tidak lama

kemudian dari hulu sungai sana tampak sebuah perahu layar kecil meluncur dengan

cepatnya.

"Apakah Tuan ingin menyeberang sungai?" tanya juru mudi perahu.

"Benar, benar!" sahut Tay-giam dengan senangnya. "Tolong sebrangkan saya, Toako!"

"Sekali jalan, seratus perak," kata tukang perahu itu.

Walaupun agak mahal, tapi karena buruburu, Tay-giam tidak mau tawar-menawar, ia

segera menjawab, "Baiklah, seratus perak!"

Sesudah berkata begitu, Tay-giam langsung melompat ke haluan perahu hingga ujung

perahu tertekan ke bawah.

Karena agak lengah, tukang perahu itu menjadi terkejut. 

"Hai, hai, Tuan apakah yang kau bawa? Terasa berat amat!" teriaknya kaget.

"Ah, tidak apa-apa, memang badanku terlalu berat, ayo lekaslah mendayung!" sahut

Tay-giam tertawa sambil memberikan seratus perak biaya menyeberang.

Namun tukang perahu masih curiga, dengan mata tak berkedip ia memandangi buntalan

yang digendong Tay-giam.

Karena mendapat angin dan menuruti arus air, perahu melaju dengan cepat dan

menyerong ke arah timur laut, ke seberang sungai sana. Kira-kira satu mil jauhnya

tiba-tiba terdengar suara guntur bergemuruh.

"Toako tukang perahu, apakah akan hujan?" tanya Tay-giam.

Tukang perahu tertawa, katanya: "Ini adalah ombak malam Sungai Ci-tong-kang,

nanti kalau perahu kita kena didampar ombak pasang, dalam sekejap perahu kita

akan sampai ke seberang, cepatnya luar biasa."

Ketika Tay-giam memandang jauh ke timur, di ufuk sana ada garis putih datang

bergulung-gulung, suara ombak pasang yang makin lama makin keras.

Ternyata di dunia ada pemandangan seindah ini, hari ini aku bisa melihatnya,

sungguh perjalananku tidak mengecewakan, pikir Taygiam.

Saat Tay-giam masih terkesima oleh ombak pasang yang bergulung-gulung bagai

bukit, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah pemandangan lain. Ia melihat di bukit

ombak sana ada sebuah kapal layar yang sedang melaju. Pada layar putih kapal itu

tampak jelas terlukis sebuah cap tangan merah yang sangat besar. Jari-jari tangan

terbuka lebar seakan-akan hendak menerkam mangsanya. Pemandangan seram dan ajaib

ini mendadak dipergoki di tengah malam. Membuat merinding yang melihatnya.

Meskipun di tengah malam yang gelap gulita, tetapi karena mata Tay-giam tajam,

dari jauh pun ia sudah bisa melihat layar ber-cap tangan merah itu. Sedangkan

tukang perahu itu baru mengetahui saat kapal layar mendekat. Ketika dilihatnya

kapal itu terus meluncur mengikuti air pasang, tukang perahu itu menjerit kaget, 

"Hai, Hiat...Hiat-jiubang....” Ia berteriak penuh rasa seram dan takut.

"Apa katamu, Hiat-jiu-bang?" tanya Taygiam heran. Tukang perahu tidak menjawab,

malahan langsung terjun ke sungai.

Keruan Tay-giam kaget karena pada saat yang sama ombak pasang bergulung-gulung

setinggi gunung. Betapapun pandai berenang pasti tidak akan tahan. Dengan cepat

ia menyambar sebatang galah lalu dijulurkan ke sungai untuk menolong tukang

perahu itu.

Namun ia kecele, ternyata tukang perahu tidak memerlukan galah, malahan ia

memberi tanda dengan menggoyang-goyangkan tangannya di dalam air. Wajahnya sangat

ketakutan, seperti kepergok setan jahat yang mau menelan manusia. Tukang perahu

terus menyelam ke bawah, dan dalam sekejap lantas menghilang.

Perahu kehilangan pengemudi, dan ketika terdampar ombak dengan sendirinya perahu

itu berputar-putar tidak karuan. Cepat-cepat

Tay-giam berlari ke buritan perahu untuk mengendalikan kemudi. Pada saat itulah

terdengar suara "blug" yang keras. Ternyata 'Hiat-jiu-bang-cun' atau kapal layar

ber-cap tangan darah telah menabrak perahunya.

Haluan kapal layar cap tangan berdarah berlapiskan baja. Akibat tubrukan itu,

tentu saja seketika perahu Tay-giam berlubang besar sehingga air sungai masuk

membanjirinya.

"Kurang ajar, siapa berani sewenang-wenang begini?" Kaget dan gusar sekali Ji

Taygiam. Karena perahunya tidak bisa ditumpangi lagi, segera saja ia enjot tubuh

melompat ke haluan kapal layar itu.

Kebetulan saat itu ombak besar mendampar datang hingga kapal layar bercap tangan

kena dilempar ke atas setinggi lebih setombak. Karena itu tubuh Tay-giam seperti

berada di bawah kapal. Ia merasa dalam bahaya, maka lalu menghimpun tenaga. Kedua

tangan dipentang dengan ilmu meringankan tubuh "Tui-hun-ciong" yang hebat, ia

melompat melebihi tinggi kapal, kemudian mendaratkan kakinya di haluan kapal.

Tay-giam melihat pintu geladak kapal terkancing rapat, tidak ada seorang pun di

sana. Ia pun berteriak, "Hai, ada orang tercebur di sungai, tolonglah!” Berulang-

ulang ia berteriak, tapi tak ada seorang pun menyahut.

Tay-giam menjadi gusar, ia mencoba mendorong pintu geladak kapal. Ia merasakan

dingin ketika tangannya menyentuh pintu. Ternyata pintu itu terbuat dari plat

baja. Dengan sendirinya tak bergeming.

la segera mengumpulkan tenaga dibarengi sekali menggertak. Kedua tangannya

didorongkan ke depan maka, terdengarlah suara gemerantang yang keras. Pintu besi

itu masih belum terpentang. Hanya engsel pintu itu yang copot karena tenaga

dorong yang kuat hingga pintu tergoyang-goyang. Pintu masih belum terbuka.

Dari dalam terdengar suara orang sedang berkata, "Hah, ilmu 'Tui-hun-ciong' dan

'Cin san cio' (pukulan penggoncang gunung) Butong-pay ternyata sangat hebat. Ji-

samhiap, tinggalkan saja To-Liong-To di punggungmu itu, lalu kami antarkan kau ke

seberang." 

Suara orang ini lembut dan ramah seperti suara bawahan Pek-bi Kau-cu yang pernah

didengarnya di kelenteng Hay-sin-bio. Diamdiam Tay-giam berpikir, rupanya kapal

perahu 'Hiat-jiu-bang' ini milik orang Pek-bi-kau, pantas saja tukang perahu tadi

ketakutan setengah mati lalu terjun ke sungai. Anehnya, darimana mereka

mengetahui namaku pula tahu kalau To-liong-to kubawa?"

Sementara Tay-giam masih berpikir dan belum menemukan jawabannya, orang di dalam

sudah berkata lagi: "Jii-samhiap, tentunya kamu heran mengapa kami bisa

mengetahui namamu, bukan? Sebenarnya tidak aneh sebab Tui-hun-ciong dan Cin-san-

cio yang kau peragakan tadi hanya dimiliki jagoan Bu-tongpay. Siapa lagi yang

mampu melakukannya sedemikian hebat? Sebelum Ji-samhiap memasuki wilayah kami di

Ciatkang, tiga hari yang lalu kami sudah mendapat kabar. Hanya saja kami tidak

mengadakan penyambutan di sepanjang jalan, hal itu hendaklah dimaafkan."

Tay-giam bingung mendengar kata-kata orang tadi, juga tidak tahu harus menjawab

apa. Ia hanya berkata, "Urusan lain kita bicarakan nanti, yang paling perlu

sekarang adalah menolong tukang perahu yang tercebur tadi."

Orang itu malahan tertawa terbahak-bahak, ujarnya, "Tukang perahu itu punya

julukan Do-ceh-cui-kui' (setan air penagih utang), entah sudah berapa banyak

orang yang dicelakainya di sungai Ci-tong-kang ini. Hati JiSamhiap terlalu bajik

ingin menolongnya, padahal ia mengincar benda yang ada dalam buntalanmu itu,

mungkin ia hendak menagih 'rekening’mu yang lalu. Hahahaha!"

Jika melihat kelakuan tukang perahu yang mencurigakan, memang Tay-giam sendiri

sudah was-was. Kini orang di dalam itupun berkata demikian, nyata dugaannya

memang benar. Maka Tay-giam pun bertanya lagi, "Siapakah nama Tuan yang

terhormat, dapatkah memperlihatkan diri untuk bertemu?"

"Pek-bi-kau kami bukan sanak-tiada-kadang-dengan Bu-tong-pay, juga tidak ada

dendam permusuhan apa-apa, maka lebih baik kita tidak bertemu saja," demikian

sahut orang itu. "Nah, Ji-samhiap silakan taruh To liong-to itu di haluan kapal, lantas

kami hantar kau ke seberang."

Mendengar kata-kata terakhir ini darah Taygiam bergolak. "Apakah To-Liong-To ini

milik golonganmu?" debatnya sengit.

"Ah... bukan,” sahut orang itu. "Golok itu diagungkan semua orang persilatan,

siapa yang tidak ingin memilikinya?"

"Tepat ucapanmu,” kata Tay-giam. "Maka sesudah golok ini jatuh ke tanganku, harus

kubawa ke Bu-tong-san dan selanjutnya terserah keputusan guruku. Cayhe (aku yang

rendah), muda usia, pengalaman masih sedikit, maka tidak berani mengambil

keputusan sendiri."

Orang di dalam itu bersuara lagi. Namun suaranya sangat lirih seperti suara

nyamuk hingga Tay-giam tidak dapat mendengar de ngan jelas. Ia mencoba bertanya,

"Apa kau bilang?"

Kembali orang di dalam itu mengucapkan beberapa kata yang sangat lirih, malahan

tambah lirih. Sayup-sayup Tay-giam hanya mendengar kata-kata,

... Ji-samhiap... To-LiongTo...." Dan selebihnya kurang jelas.

"Kau bilang apa?" ia menegas lagi sembari maju beberapa tindak.

Pada saat itulah tiba-tiba suatu gelombang ombak mendampar hingga kapal layar

terlempar naik. Mendadak Tay-giam merasa seperti digigit nyamuk di bagian dada,

perut, serta paha. Sangat janggal terjadi karena waktu itu musim semi yang

tentunya tidak ada nyamuk. Ia tidak lagi memperhatikan hal itu lantas menggaruk-

garuk sebentar di bagian yang gatal itu. Lalu katanya dengan lantang, "Hanya

karena sebilah golok, kalian sudah banyak membunuh orang, di dalam kelenteng itu

saja puluhan mayat bergelimpangan, cara kalian sungguh terlalu kejam."

"Tidak, cara Pek-bi-kau turun tangan selalu membedakan yang berat dan ringan,

terhadap yang jahat menggunakan cara berat, bagi orang baik turun tangan enteng,"

sahut orang itu. "Nama Ji-samhiap menggoncangkan Kangouw, dengan sendirinya kami

tidak bisa mencelakai nyawamu, maka kautinggalkan

saja To-Liong-To itu dan Cayhe segera akan memberikan obat penawar racun 'Bun-

siciam'.'

Mendengar nama 'Bun-si-ciam' atau jarum sungut nyamuk, hati Tay-giam tergetar.

Cepatcepat ia meraba bagian yang digigit nyamuk tadi. Terasalah rada gatal dan

pegal, rasanya persis sehabis digigit nyamuk. Tapi ia agak ragu, mungkinkah benar

digigit nyamuk? Darimanakah datangnya nyamuk? Apalagi di tengah sungai begini!

Akhirnya Tay-giam sadar. "Ah, rupanya tadi dia sengaja bersuara lirih untuk

memancing aku agar mendekat lalu menusukkan amgi yang sangat kecil dan lembut

ini.”—Tay-giam pun ingat akan rasa ketakutan Tek Seng, orang-orang Hay-soa-pay

dan tukang perahu tadi, ternyata Pek-bi-kau melebihi binatang paling berbisa,

maka dapat diduga racun senjata rahasia yang dipakai ini pasti sangat jahat.

Sekarang tidak ada jalan lain kecuali harus menawannya, lalu memaksanya untuk

menyerahkan obat penawar racun.

Setelah mengambil keputusan sambil menggertak tertahan. 

Dengan tangan kiri melindungi muka dan tangan kanan menjaga

dada, segera Tay-giam melompat maju menerjang ke dalam kapal.

Namun belum lagi ia berdiri dengan baik, dari tempat gelap angin keras sudah

menyambar. Dari dalam kapal seseorang telah menghantamkan telapakan tangannya.

Dalam keadaan murka, Tay-giam pun melontarkan hantaman sekuat tenaga. Maka kedua

tangan saling beradu didahului suara "plak” kedua pihak sama-sama bergetar lalu

mundur beberapa tindak.

Tay-giam belum berdiri tegak, tapi ia sudah didorong kembali keluar. Ia merasakan

telapak tangannya kesakitan luar biasa. Benar, akibat beradunya tangan tadi lagi-

lagi ia kena tipu licik musuh. Diam-diam tangan orang itu menyembunyikan senjata

gelap yang tajam dan lancip. Maka begitu saling beradu, tujuh duri tajam langsung

menusuk ke dalam daging telapak tangannya. Tenaga orang yang memukul itu kira-

kira sama kuatnya dengan Tay-giam. Andaikata tidak memakai akal

licik, ilmu silatnya juga tidak lebih rendah dari dia.

Sementara orang itu berkata lagi dengan ramahnya, "Racun senjataku 'Cio-sim-

chitsing-ting' (paku tujuh bintang di tengah telapak tangan) beda pula dengan

lainnya. Pukulan Ji-samhiap sungguh mengagumkan, benar-benar luar biasa, kagum,

sungguh kagum!"

Saking murkanya, segera Tay-giam mengeluarkan To-Liong-To dari buntalannya.

Dengan kedua tangannya memegang garan golok, segera ia membabat sekuat tenaga.

Terdengarlah suara "crat" yang perlahan, disusul pintu besi yang terpotong

menjadi dua. Meskipun golok itu tampaknya tidak menarik, tapi tajam tiada

bandingan. Saking bernafsunya Tay-giam mengayunkan goloknya membabat dan membacok

serabutan. Dinding kapal yang terbuat dari plat baja itu ternyata tidak tahan

kebentur golok pusaka. Bagai kayu yang dikampak saja, jatuh berkeping-keping ke

dalam sungai.

Orang di dalam kapal tidak dapat menyembunyikan diri lagi terpaksa melompat ke bu

ritan kapal sambil berseru, "Kamu kena dua macam racun berturut-turut, masih mau

berlagak apa lagi?”

Namun Tay-giam tidak peduli, ia memburu maju terus membabat pinggang orang itu.

Melihat serangan yang maha hebat itu, segera orang itu menarik sebuah jangkar di

sampingnya dibuat menangkis. Terdengarlah suara sobekan kain "crat” yang

perlahan,

ternyata jangkar yang cukup besar itu sudah putus terpotong.

Cepat-cepat orang itu melompat ke samping sambil berseru, "Apa yang kamu

inginkan, nyawa atau Po-to?"

"Baik! Kau beri aku obat pemunah racun, aku berikan Po-to ini,” sahut Tay-giam.

Kini sudah terasa olehnya paha yang terkena Bunsi-ciam tadi mulai gatal pegal. Ia

mengerti, racun sudah bekerja. Ia merasa To-liong to ini diperolehnya secara

tidak sengaja, lagipula ia tidak tertarik. Jika kehilangan juga tak apaapa. Maka

segera ia lemparkan golok itu ke atas geladak kapal hingga menimbulkan suara

keras.

Orang itu tampak sangat girang, cepat-cepat ia mengambilnya lalu diusap-usapnya

tanpa berhenti, nyata sayangnya tak terkatakan, dan karena orangnya berdiri

memungkuri bulan, maka mukanya tak terlihat jelas, hanya golok itu saja yang

terus dipandang dan diusapusap, tapi tak mengeluarkan obat pemunah racun. Sampai

agak lama Tay-giam menunggu, namun orang itu tidak mengeluarkan obat penawar

racun.

Selang agak lama, Tay-giam merasakan kaki

nya bertambah sakit, segera ia menegur: "Hai, katanya golok tukar obat, mana

obatnya?"

Tiba-tiba orang itu tertawa terbahak-bahak bagai mendengar cerita yang sangat

lucu.

"Aku tanya obat yang akan kau beri, apanya yang lucu?" damprat Tay-giam gusar.

"Ahahaha!” Kembali orang itu tertawa terbahak-bahak sambil menuding hidung

Taygiam. "Kamu ini benar-benar tolol, tanpa menunggu aku memberi obat, kamu sudah

memberikan golokmu lebih dulu!”

"Laki-laki sejati tidak akan menjilat ludah sendiri, aku sudah janji tukar obat

dengan golok dan aku tidak akan mungkir! Mau kuberikan dulu atau kemudian

bukankah sama saja?" sahut Tay-giam semakin gusar.

"Jika kamu memegang golok ini, aku merasa agak takut kepadamu. Seandainya

kehebatanmu tidak melebihi aku, jika golok ini kaulemparkan ke sungai, belum

tentu aku bisa mencarinya," demikian kata orang itu. "Tapi kini golok pusaka

sudah ada di tanganku, masihkah kamu pikir aku akan memberikan obat pemunah racun

untuk menolongmu?"

Seketika darah Tay-giam tersirap, ia memikir Bu-tong-pay dan Pek-bi-kau

selamanya tiada dendam permusuhan. Ilmu silat orang ini pun tidak rendah,

tetapi mengapa ia memungkiri janji untuk memberikan obat pemunah racun, padahal

To-Liong-To sudah kuserahkan.

Lalu orang itu berkata lagi, "Ji-samhiap, ada sesuatu yang harus kamu ketahui,

racun Bunsi-ciam masih ringan, tidak sebanding dengan racun Chit-sing-ting yang

sangat ganas itu. Dalam waktu 12 jam daging di sekujur tubuhmu akan terkelupas

dan anggota badanmu akan terpotong-potong, kecuali diberi obat pemunah tunggal

kami. Sekalipun malaikat dewata turun dari kayangan juga tak akan bisa menolong.

Seandainya diberi obat pemunah racun dari kami itupun yang tertolong hanya

nyawamu saja. Ilmu silat Ji-samhiap yang tersohor di dunia itu tak mungkin bisa

dipulihkan kembali." —Kata-katanya itu diucapkan dengan lemah lembut, sopan,

seperti seorang sahabat dekat yang sedang memberi nasihat saja.

Tay-giam mencoba menahan kegusarannya. "Mati atau hidup seorang laki-laki

tergantung nasib, aku Ji Tay-giam selamanya bertindak terbuka dan tidak pernah

sembunyi-sembunyi, sekalipun aku harus mati di tangan manusia rendah, mengapa aku

harus takut?"

"Hebat, hebat!" puji orang itu sambil mengacungkan jempolnya. "Bu-tong-chit-hiap

memang bukan omong kosong. Jagoan di dunia ini yang pernah terkena paku dan

jarumku tiada terhitung banyaknya, biasanya kalau mereka tidak minta ampun

sesambatan, tentu menangis tergerung-gerung, tapi orang tanpa menghiraukan mati-

hidup seperti Ji-samhiap, tenang dan tegas, sungguh Cayhe jarang melihat."

"Hm...,” gumam Tay-giam. "Siapakah nama Tuan yang terhormat, bolehkah aku tahu?"

"Ah, Cayhe hanya seorang 'Bu-beng-siaucuƄ (prajurit tak bernama) di bawah Pek-

bikau, jika Bu-tong-pay ingin balas dendam, dengan sendirinya ada Kau-cu kami

yang akan menghadapi," sahut orang itu sambil

tertawa. "Lagipula kematian Ji-samhiap malam ini terjadi secara tidak jelas,

sekalipun gurumu Thio Sam-hong Cosu punya kepandaian setinggi langit, tapi belum

tentu tahu Jisamhiap mati di tangan orang Pek-bi-kau."Orang itu berkata demikian

merasa seolaholah kematian Ji Tay-giam sudah pasti.

Sementara itu telapak tangan Tay-giam terasa gatal dan sakit tak tertahan,

seperti digigit ratusan ribu semut. Diam-diam ia mengulurkan tangannya dan meraih

potongan jangkar yang terkutung tadi sambil berpikir, biarpun hari ini aku mati,

aku harus mati bersamamu.

Saat itu ia mendengar orang lagi asyik bicara dengan senangnya. Tiba-tiba Tay-

giam menggertak terus menubruk maju. Jangkar kutung ditimpukkannya ke depan

berbareng tangan yang lainnya pun menghantam dada orang itu. Ia menyadari dirinya

tidak akan terhindar dari melapetaka, tapi yang jelas ia tidak sudi mengemis-

ngemis untuk minta obat. Maka serangannya ini adalah serangan terakhir sebelum

ajalnya tiba, tentu saja lihainya luar biasa.

Akibat serangan mendadak ini, membuat orang itu menjerit kaget, segera To-liong-

to hendak digunakannya menangkis. Tapi dalam gugupnya, ia tidak ingat jika golok

pusaka itu amat berat. Puluhan senjata digabungkan menjadi satupun tidak akan

seberat To-liongto. Maka ketika diayunkan, orang itu hanya kuat setengah jalan

saja. Senjata itu terus mendelong ke bawah dan malahan hampir membacok lututnya

sendiri.

Dalam keadaan terkejut orang itu berusaha menahan sekuat tenaga. Tiba-tiba ada

angin kencang menyambar mukanya, kutungan jangkar yang dipukulkan Tay-giam tadi

menghantamnya. Meskipun ilmu silatnya tinggi namun jika ada serangan sehebat ini

susah juga menangkisnya. Diam-diam ia mengeluh bakal celaka, terpaksa ia pejamkan

mata menantikan ajalnya.

Tak terduga justru pada saat itu, gelombang ombak yang masih mengamuk tiba-tiba

mendampar datang setinggi gunung, hingga kapal layar terombang-ambing naik turun

dan arah jangkar yang kutung itupun menjadi menceng. 

Namun orang itupun terus terjungkal ke dalam sungai. Walaupun ia bisa

terhindar dari timpukan jangkar, tapi hantaman Tay-giam tadi mengenai perutnya

hingga isi perutnya terburai. Lalu kecemplung ke sungai dalam keadaan pingsan.

Tay-giam menghela napas lega karena serangannya berhasil. Ia lihat orang itu,

meski terkena hantaman dan pingsan, tapi terus memegangi To-Liong-To erat-erat.

Tay-giam jadi geli dan tertawa dingin. "Hm, sekalipun kamu dapat merebut Po-to,

tapi apa gunanya bila kamu terkubur di dasar sungai?"

Saat itu sekonyong-konyong ada selarik sinar perak berkelebat ke tengah sungai,

dan tahu-tahu leher orang itu terlilit lalu tertarik lagi ke atas.

Tay-giam sangat terkejut, cepat-cepat ia berpaling ke arah datangnya sinar perak

itu. Tampaklah sebuah perahu kecil yang di atasnya berdiri seorang kurus berbaju

putih. Tangannya memegang seutas rantai putih bersama orang tadi dan To-Liong-To.

Tay-giam diam tercengang, ia merasa terjebak akal licik orang tadi. 

Tak disangka bala bantuan telah datang, dan kapan

datangnya perahu itu Tay-giam tidak pernah memperhatikannya.

Maka terdengarlah si kurus berbaju putih di haluan perahu kecil membentak sekali.

Perahunya sudah mepet dengan kapal layar, dan segera orangnya melompat naik

seperti burung wallet putih.

Sementara itu racun di badan Tay-giam sudah bekerja hingga seluruh tubuhnya

terasa lumpuh. Ia tergeletak di buritan kapal. Ketika dilihatnya musuh tiba, ia

bermaksud memapak, tapi untuk berdiri saja sudah tidak sanggup lagi. Dalam

gugupnya itu, pandangannya tiba-tiba menjadi gelap, dan seketika tidak sadarkan diri.

No Comment
Add Comment
comment url