HSDS2019

HSDS2019

Sabtu, 27 Juli 2019

Penggunaan “Chaos is a Ladder” dalam cersil


Murong Bo  (Demi Gods n Semi Devils)
Chaos is a ladder yang punya arti “Kekacauan adalah sebuah Tangga” , istilah ini pasti dimengerti oleh para penggemar serial Game of Thrones ataupun yang pernah menontonnya. istilah ini dibilang oleh Petyr Baelish saat beradu mulut dengan si kasim botak. Maksud dari istilah ini adalah membuat berbagai pihak untuk berselisih atau bertengkar, saling menghancurkan satu sama lain, kemudian dia akan mengambil kesempatan atau peluang dalam kekacauan itu, yang dimana peluang itu tidak akan muncul jika berbagai pihak atau negara itu sedang aman, damai, tentram. Jadi orang yang menyebabkan kekacauan itu , bermain dibelakang, tidak kelihatan alias kasat mata, sambil mencari kesempatan setahap demi setahap untuk menjadi besar. Petyr “little finger” Baelish dalam hal ini, dia lah yang awal memulai menciptakan kekacauan pada cerita Game of Thrones (GoT), membuat para “Great House” berselisih dan akhirnya saling menjatuhkan. Tema cerita GoT sempat diangkat oleh presiden Jokowi dalam pidatonya di pertemuan IMF-bank dunia tahun 2018 kemarin. 


Teknik “Kekacauan adalah tangga” ini ternyata juga digunakan oleh salah satu tokoh di cerita Pendekar Negeri Tayli (demi gods and semi devils/dgsd), yaitu Murong Bo. Keluarga Murong di pendekar negeri tayli merupakan keturunan dari kerajaan dinasti “Yan” yang sudah runtuh/punah (former yan, later yan, southern yan, western yan, dll). klan Murong dihabisi oleh Wei dari Dinasti Utara. Keturunan Murong selalu mempunyai misi dan keinginan untuk bangkit kembali. Pada masa dinasti Sui dan Tang, mereka mengalami penurunan drastis. mereka sempat hampir bangkit di era jendral Murong YanChao dan Murong LongCheng (pencipta ilmu pergeseran bintang yang nantinya menjadi andalan keluarga Murong), tapi nasib kurang mujur, karena saat era itu juga bertepatan muncul orang “hebat”, yaitu Zhao Kuang Yin, yang nantinya mendirikan dinasti Song, mimpi mereka untuk membangkitkan negara “Yan”  pun pupus harapannya.  Secara generasi per generasi, murong tidak bisa bangkit, sampai ke era Murong Bo, dia memikir cara bagaimana untuk bangkit, kemudian dia berpikir untuk menggunakan teknik “kekacauan adalah tangga” ,  pertama dia sempat bekerja pada negara Liao, bekerja di bagian peradilan dan persidangan. Dia menemukan fakta bahwa semua pejabat Liao mendukung penyerangan ke negara Song, tetapi klan Xiao, yaitu klan yang paling dipercaya oleh kaisar Liao, dan juga permaisuri selalu langganan berasal dari klan Xiao selama ratusan tahun, menolak usul itu dan selalu mencegahnya. Saat itu klan Xiao terdapat Xiao Yuanshan, dia juga menjabat sebagai kepala militer dari salah satu divisi. Guru Xiao Yuanshan adalah orang Song, sehingga dia lebih kompromi terhadap orang Song, dia yang paling aktif untuk menentang rencana penyerangan ke negara Song. Karena itu, Murong Bo kemudian berusaha menyingkirkan dia, sekaligus melaksanakan taktik “Kekacauan adalah tangga”. Murong Bo memberikan informasi palsu bahwa negara Liao akan mengutus orang untuk menyerang Shaolin, dan mencuri kitab-kitab ilmu beladiri , kemudian melatih pasukannya dengan ilmu beladiri dan menjadi kuat. Atas informasi palsu itu, kepala biksu Shaolin mengumpulkan para ahli beladiri, berdiskusi dan kemudian berencana melakukan pencegatan di perbatasan Yanmen. Disitu mereka menghabisi beberapa kereta dan pasukan kecil Liao, dan kemudian bertemu dengan Xiao Yuanshan dan istrinya yang sedang dalam perjalanan menuju rumah mertua merayakan ulang tahun. Terjadilah peristiwan Yanmen yang berdarah dan memalukan. Murong Bo kemudian menghilang dan menghembuskan kabar bahwa dia telah meninggal (hanya istrinya yang tahu dia masih hidup).

Sayangnya , tidak seperti Petyr Baelish yang boleh dibilang lebih berhasil, “kematian” Xiao Yuanshan biarpun menyebabkan keributan dan perang kecil di daerah perbatasan ataupun pembantaian kepada penduduk di dekat wilayah perbatasan, tidak sampai menimbulkan konflik besar. Itu disebabkan karena negara Song saat itu diatur oleh Empress Dowager (apa sih bahasa indo yang tepat?) yang sangat disegani, kaisar Song saat itu hanya lah kaisar boneka, dan Empress Dowager ini disegani oleh negara Liao, mereka tidak berani menyerangnya. Setelah kematian Empress Dowager, dan kaisar muda Zhao Xu benar-benar memegang kendali kekuasaan, Khan Liao saat itu yaitu Yelu Hongji, langsung pergi ke Nanjing-nya negara Liao, yaitu YanJing (kota Beijing sekarang ini) , atau nama lain Youdou , dan memerintahkan Xiao Feng, yang saat itu menjabat jadi Khan Selatan untuk segera menyerang negara Song. dan seperti yang kita tahu, akhirnya terjadi tragedi dan rencana penyerangan dibatalkan.
Strategi “Chaos is a Ladder” ini pun kembali gagal karena klan Xiao (Xiao Feng, anak dari Xiao Yuanshan). Biarpun menggunakan teknik yang sama, Murong Bo disini dirasa kurang berhasil dibandingkan Petyr Baelish dalam GoT, si Petyr telah berhasil mengendalikan suatu pasukan kuat dari great house Eyrie (sayangnya karena terlalu percaya diri berpikir telah mengendalikan Sansa Stark yang ternyata tidak), sedangkan Murong Bo ataupun Murong Fu, tidak berhasil menghimpun pasukan.


*catatan:
  • - setelah Shi Jingtang mendeklarasi diri menjadi kaisar, 16 wilayah Song diberikan oleh Shi Jingtang kepada negara Liao (termasuk kota Yanjing atau saat ini disebut Beijing) sebagai imbalan atas dukungan dan bantuan, sekitar 150 tahun lalu sebelum cerita DGSD
  • - negara Song terus mengalami kekalahan besar perang melawan Liao saat berusaha merebut kembali 16 wilayah itu. yang akhirnya, Selain 16 wilayah yang dicaplok, juga negara Song harus membayar upeti tahunan kepada Liao.  
  • -penggunaan gelar atau jabatan “Khan” pada Xiao Feng, ini juga digunakan pada kerajaan dinasti Mongol nantinya. kalo di cerita fiksi GoT, mungkin mirip dengan klan Dorthraki yang menggunakan “Khal”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar